Oleh: Zahri Asshomad
Nuansa
Pikirku hidup ini penuh rencana. Banyak manusia yang dijebak impian. Benar kan? Lewat impian, kita bebas mengandai-andai, berharap, dan percaya pada harapan. Menggapai mimpi dan bertahan hidup dengan semangat cita-cita
Allah maha pengasih? Tapi, tak pernah kita sadari besarnya kasih sayang Allah. Sedikit saja tersenggol cobaan, kita mengumpat. Sedikit saja tersentuh nikmat, kita melunjak.
Pandangan dari puncak
oleh : Zahri As
Cetak:
Tak ada habis-habisnya ulasan mengenai krisis finansial yang kian sulit ditebak babak akhirnya ini. Harapan pulih yang mulai tampak samar-samar di ujung lorong kerap kembali gelap dan digantikan oleh awan mendung.Hari-hari belakangan ini, usia asa terasa singkat sekali. Meski ia harus terus ditancapkan, kekuatan penghancur dari luar jauh lebih berdaya dan mematikan.Padahal, asa tidak boleh mati sekejap pun.Apalagi pada saat krisis seperti sekarang. Apabila kita merasa belum siap melewati masa-masa penuh ketidakpastian seperti saat ini, masih ada jalan untuk mencapai kemenangan asalkan ada kemauan dan tekad yang kuat.Salah satu kiatnya adalah dengan belajar pada kesuksesan dan strategi menang yang diterapkan orang lain. Kedengarannya sederhana tetapi ini me - rupa kan salah satu kunci untuk menjaga agar kapal (perusahaan) karam atau tenggelam dihantam angin puyuh krisis.Tidak heran bila belakangan ini berbagai media yang mengulas masalah ekonomi, bisnis, dan manajemen gencar menampilkan kiat-kiat para pemimpin puncak perusahaan multinasional yang dinilai berhasil menjinakkan krisis atau, paling tidak, kepemimpinannya tetap mampu membuat perusahaan disegani lawan ataupun kawan.Itulah hal menarik yang bisa kita petik dari jurus-jurus sejumlah eksekutif puncak yang kebetulan berbasis di AS, negara yang dicap sebagai biang penyebar krisis finansial global.Fortune edisi 16 Maret menuliskan kiat-kiat mereka dalam tulisan bertajuk A View from the top.Mereka yang disasar adalah Gary Kelly (Southwest Airlines), Muhtar Kent (Coca Cola), Bill Weldon (Johnson & Johnson), Jim Skinner (McDonald's), dan Fred Smith (FedEx).Melihat foto dan komentar mereka terpampang di majalah ekonomi terkemuka tersebut, kita tidak bisa begitu saja underestimate dengan mengatakan: "Jangan sok pintar karena gara-gara ulah korporasi di AS, krisis finansial melanda dunia." Pasalnya, lima eksekutif puncak tersebut adalah bagian dari 50 korporasi yang masuk kategori Most Admired versi Fortune untuk tahun ini.Dikemas dalam tata wajah yang menarik, tip-tip manajemen disajikan secara ringkas tetapi mengena.Lihat apa yang dilakukan Kelly. "Kami tidak pernah melakukan PHK. Kami tidak pernah memotong gaji karyawan." Eksekutif itu tentunya sedang tidak main-main.Dia memimpin pada saat ekonomi dan bisnis sedang susah. Ketika banyak maskapai pener - bangan papan atas dunia termehek-mehek, se hingga terpaksa mengistirahatkan armada dalam jumlah besar, Kelly tetap fokus pada sikap hati-hatinya.Siapa bilang dia tidak nervous? Dia mengaku sangat stres. Namun, optimismenya mengalahkan itu semua. Tahun ini bisnis Southwest Airlines ditargetkan lebih berkembang lagi.Manajamen sudah merasa korporasi kelebihan karyawan di divisi tertentu. Kelly memutuskan jangan ada PHK. Agar perusahaan tidak oleh, manajemen memutar otak untuk menggali terobosan yang kreatif guna memompa semangat kerja dan profesionalisme karyawan.Intinya, yang diharapkan Kelly saat ini adalah bukan apa yang bisa diberikan perusahaan kepada karyawan, melainkan apa yang bisa diberikan karyawan kepada perusahaan."Kami melakukannya dengan alasan yang sangat jelas agar karyawan tidak terancam, terutama status mereka." Ada jurus menarik lainnya yang dilakukan bos maskapai penerbangan itu, yaitu jangan meniru begitu saja jurus-jurus penyembuhan krisis sebelumnya untuk dijadikan road map dan kemudian berasumsi 'oh..ya, kejadiannya akan seperti ini, seperti yang kita alami pada 1991." Gaya Muhtar Kent beda lagi. Bos Coca Cola tampaknya ingin bersikap lugas dalam menghadapi krisis. Satu hal yang tidak boleh terjadi dalam diri eksekutif puncak adalah terjerumus atau tersedot oleh krisis.Di tengah kondisi yang serba tidak pasti ini, Kent menekankan perlunya mengerem pengeluaran dan mengalihkan fokus pada hal-hal yang jauh lebih bernilai.Cermati lagi apa sesungguhnya yang dikehendaki pelanggan. Untuk itu, Kent bersama timnya harus rela mengunjungi 20 juta toko setiap minggu di seluruh dunia. Dari fakta yang diperoleh di lapangan terungkap bahwa potensi pasar masih menjanjikan, masih ada pasar yang sedang tumbuh meski disertai pergeseran pola-pola konsumsi.Kent melihat bahwa orang-orang kini lebih suka mengonsumsi minuman ringan di rumah. Di satu sisi, ada saluran bisnis Coca Cola yang menghadapi masalah. Namun, di sisi lain, ini merupakan tantangan bisnis bagi take-home division."Badai krisis ini amat menggetarkan. Namun, saya hidup dan bekerja di tengah krisis saat berada di Rusia, Turki, dan Argentina."Tataplah masa depan bisnis Anda de ngan optimistis. Sekarang boleh krisis te tapi di ujung lorong ada seberkas cahaya dan harapan yang menunggu digapai.Kent memperkirakan mulai tahun ini hingga 2020 akan ada miliran orang yang 'bermigrasi' menjadi kaum urban dan miliaran lainnya yang naik status menjadi masyarakat kelas menengah. "Dan itu menerjemahkan sebuah peluang yang sangat dahsyat bagi industri minuman kami." Kita beralih ke jurus pamungkas Bill Weldon.Pria berambut putih ini tampaknya lebih asyik dan tertantang bekerja justru ketika dihantam krisis."Bagi saya, lebih susah mengelola bisnis pada harihari yang baik," ujarnya mantap.Weldon bersama timnya bekerja atas dasar prinsip 'tidak ada yang perlu ditakuti kecuali rasa takut itu sendiri'.Sementara itu,, Jim Skinner boleh tersenyum lebar kala eksekutif puncak lain jantungan. "Kami berhasil menarik lebih banyak pelanggan ketimbang sebelumnya." Kini, MacDonald's melayani sedikitnya 58 juta pelanggan setiap hari atau naik 2 juta dibanding - kan dengan tahun lalu. Kuncinya, kata Skinner, cari tahu apa yang dipikirkan pelanggan. Korporasi menjawabnya dengan melakukan riset mendalam.Alhasil, tak dijumpai lagi menu keju dobel. Yang ada adalah McDouble yang hanya berisi satu potongan keju. "Itu perubahan yang berarti," kata Skinner




